Tugas 2:
Perbandingan Novel Dan Film:
Film:
Romantis penuh komedi
Awalnya, saya mengira bahwa film ini ber-genre film romantis
seperti film novel teen
lityang diangkat ke layar lebar pada umumnya. Adaptasi novel
pertama dari Wulan Fadi ini ternyata berhasil mematahkan ekspektasi saya.
Memang, banyak adegan yang mungkin membuat baper beberapa orang, namun di tengah-tengah
adegan bapertersebut sering
dihadirkan hal-hal humoris yang tidak akan kita duga.
"Memang ada
beberapa karakter-karakter di novel yang aku tidak masukkan, aku banyak
koordinasi dengan Om Rizki Balki, selaku sutradara," ujar Wulan Fadi,
selaku penulis novel A saat ditemui dalam press conference film A:
Aku, Benci dan Cinta di
Restorante De Valentino, Setiabudi, 7 Agustus.
Permainan emosi
dalam film ini juga sangat beragam dan banyak cepat terjadi. Dengan sangat
cepat, penonton bisa merasa sedih dalam suatu scene dan daam hitungan beberapa
menit bisa kembali senang karena beberapa konflik diselesaikan dengan cara yang
tidak terlalu serius.
Saat saya menonton
film ini, banyak emosi yang tidak terduga yang datangnya dariscene yang menurut saya serius, sehingga
beberapa waktu saya menjadi merasa tidak dapat menebak akhir dari cerita film
ini.
Akting yang maksimal
Menurut saya, para
aktor yang memainkan film ini sudah memenuhi kriteria karakter yang sudah ada
di novelnya dan hal itu terlihat dari kedalaman para pemain saat film. Indah
Permatasari sendiri mendapat banyak pujian, karena sebelumnya Indah sendiri
hanya mendapatkan pemeran supporting
actress di
film-film sebelumnya, Rudy
Habibie(2016) serta Stip dan Pensil (2017).
"Untuk
mendalami peran di sini, aku banyak-banyak tanya sama Om Rizki Balki,"
jawab Indah saat ditanya mengenai bagaimana cara ia mendalami peran Anggia.
Indah juga menambahkan bahwa Rizki Balki adalah sosok sutradara yang tidak
menambahkanpressure pada pemainnya, sehingga semua pemain
merasa sangat senang dan bisa menikmati selama proses syuting berlangsung.
Untuk
anak SMA
Walau film ini bisa
ditonton oleh siapa saja, namun saya sangat merekomendasi film ini untuk kalian
yang masih duduk di bangku SMA. Meski penonton seperti saya, yang sudah tidak
lagi berada di bangku SMA, juga ikut baper saat menonton film ini, namun
saya merasa bahwa ke-baper-an yang lebih dalam lagi akan
dirasakan oleh yang masih berada di bangku SMA karena cerita ini sendiri juga
menceritakan tentang masa-masa SMA.
Hal tersebut juga
didukung oleh kehadiran Jefri Nichol dan Amanda Rawles, pasangan aktor dan
aktris yang sekarang sedang naik daun di kalangan anak-anak sekolahan karena chemistry mereka di film-film yang mereka
perankan bersama sebelumnya. "Aku malah senang ya main film bareng sama
Nichol lagi, soalnya enggak perlu ribet-ribet lagi bangun chemistry dari awal," ungkap Amanda Rawles.
Film A: Aku, Benci dan Cinta adalah film yang pas untuk ditonton
jika kalian sedang mencari film Indonesia yang menceritakan romantisme serta
komedi. Film ini sendiri sudah dapat ditonton di layar lebar mulai tanggal 16
Agustus di bioskop.
Novel :
Sebetulnya,
kalau ditinjau dari sisi guliran pengisahan sih A: Aku, Benci, dan
Cinta tidak menawarkan pembaharuan apapun. Plotnya generik: dua orang
saling benci, lalu lama-lama timbul rasa suka satu sama lain, begitu hendak
bersatu eh ternyata selama ini ada orang ketiga dalam kehidupan masing-masing.
Karakter yang mempersulit laju hubungan Alvaro dan Anggia di A: Aku, Benci, dan
Cinta adalah Athala (Amanda Rawles), perempuan dari masa lalu Alvaro yang
terbaring koma, beserta Alex (Brandon Salim), teman baik dari kakak Anggia.
Yang kemudian membuatnya terasa tetap menyenangkan buat ditonton adalah
bagaimana cara Rizki Balki menghantarkan kisah kasih empat remaja ini.
Ketimbang menggulirkannya dengan rentetan momen mengharu biru, sang sutradara
beserta Alim Sudio selaku penulis skenario memilih untuk menghadirkannya
mengikuti semangat remaja pemakai seragam putih abu-abu yang seringkali ceria
dan menggebu-nggebu. Suatu pendekatan menyegarkan untuk film percintaan
Indonesia yang mau tak mau mengingatkan kita kepada film bergenre komedi
romantis buatan negara tetangga, Thailand. Terlebih formulanya pun senada,
momen penuh kemesraan dari karakter yang tengah kasmaran digeber seraya ngelaba
konyol-konyolan.
Disamping
Athala dan Alex, setiap karakter inti maupun pendukung diberikan kesempatan
untuk unjuk kemampuan dalam melucu. Bahagianya, mereka berhasil menghantarkan
momen komedik secara mulus terutama Syifa Hadju sebagai sahabat yang amit-amit
ganjennya, TJ Ruth sebagai guru Anggia yang ceriwis bukan main, serta Indah
Permatasari yang dipenuhi imajinasi-imajinasi liar. Ya, sosok Anggia memang
dideskripsikan sekeras batu nyaris tak pernah menyunggingkan senyum selain
kepada Tara, namun tak jarang pula dia bertingkah lebay terlebih saat dia mulai
berpikir macam-macam perihal situasi di sekitarnya. Visualisasi dari
imajinasinya itu lho, lucu sekali. Kendati jor-joran dalam bercanda, A:
Aku, Benci, dan Cinta sama sekali tak melupakan fitrahnya sebagai film
romansa dengan menghadirkan sejumlah adegan unyu-unyu menggemaskan yang
melibatkan para protagonis utama dan diiringi skoring musik apik gubahan Donny
Irawan beserta Alfa Dwiagustiar yang membantu mempertebal rasa. Sisi romantis
film yang malu-malu kucing di awal mulai semakin terdeteksi rasanya seiring
berjalannya durasi. Seiring semakin menguatnya chemistry diantara
Jefri Nichol, Indah Permatasari, dan Amanda Rawles yang sanggup membuat
penonton yakin bahwa ketiga remaja ini memang tengah kasmaran.
Pesannya : Jangan terlalu mudah menaruh hati terhadap orang
lain.
Komentar