Tapi susah :(

CERBUNG PART 9

Oke, lupakan…

Semenjak kejadian itu, aku jadi mengenal banyak karakter dan tahu bagaimana harus menghadapinya. Itu pelajaran berupa pengalaman yang bahkan tidak didapati dalam bangku sekolah sekalipun. Karena kami seharian bertemu dan berinteraksi.

Aku mulai mengenal Ustadz dan Ustadzah, dan yang lainnya…

Hari-hari seperti biasa ku jalani. Mungkin pada awal agak sedikit tak terbiasa karena memang berbeda 180 derajat dari kehidupanku sebelumnya. Tapi lama-kelamaan ya harus terbiasa. Karena, mau bagaimana lagi. Semua harus di jalani dengan ikhlas.

Aku yang orang pertama kali lihat terkesan dengan sebutan muka jutek. Ya, aku akui itu. Tapi semua berkata heran setelah mereka dekat dan mengenal sifat aku aslinya. Ramah dan menyenangkan. Kira-kira begitulah.. Kalau udah deket, pasti lo nyaman deh.. :D

Singkat cerita usiaku sudah menginjak SMA.. Keinginanku untuk masuk Pondok Pesantren akhirnya terkabulkan juga. Disitulah proses panjang perjuangan menghafal mulai terasa.

Hafalan setiap hari dan belum lagi dengan pelajarann-pelajaran yang lumayan membuat otak semakin sulit untuk berkonsentrasi dalam menghafal.

Pertama menghafal dimulai dari surat-suirat pendek dan menghafal dimulai dari Surat An-Naba. Mungkin pada awalnya mudah, tapi lama-kelamaan aku sempat mengalami putus asa / futur pada saat itu.

Aku juga kadang melanggar aturan pondok yang tidak memperbolehkan membawa mp3 berisikan musik. Tapi, secara jujur aku mengakui dari dulu memang aku sangat menyukai musik. Ketika bosan menyerang, kemudian aku mendengarkan musik, dan setelah itu aku merasa enjoy. Aku pernah menjadi anak nakal pada saat itu.

Buat Ustadzah yang baca ini, maafkan aku yang khilaf waktu itu yaa.. :D

Tapi, lama kelamaan aku juga berfikir. Tidak mungkin aku harus berlarut larut dalam ke-futuran. Harus bisa bagaimanapun usahaku untuk meninggalkan musik. Meski sangat sulit. Tapi yang ku bisa waktu itu hanya mengurangi sedikit kebiasaanku itu. Soalnya masih susah L..

Proses dilema ku cukup panjang. Dan proses itu membuatku berpikir. 

Sampai ketika aku merasa futur itu kembali datang ketika menghafal, ku tuliskan satu kata motivasi yang membuat diriku merasa tertampar.
Ku tuliskan dalam kalimat Bahasa Arab yang artinya : “ Al-Qur’an itu adalah cahaya. Dan cahaya tidak akan masuk kepada hati orang-orang yang bermaksiat kepadaNya. “

Dalam keadaan futur ketika menghafal, ada rasa putus asa dan rasa pesimis lainnya, aku selalu mengingat kata-kata itu.

Menjadikanku bahan introspeksi diri bahwa jika kita merasa sulit menerima suatu Ilmu, itu artinya kita sudah terlalu banyak menyimpan maksiat dalam diri. Sehingga berbenahlah dan introspeksi, berusaha untuk tidak melakukan maksiat kepadaNya. Jika menjadi penghafal Al-Qur’an adalah sebuah cita-cita, maka muroja’ah adalah pekerjaan sepanjang hidupnya.. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al Aswad bin Yazid - Perawi Hadits Ahli Ibadah

InsyaaAllah bisa...