Al Aswad bin Yazid - Perawi Hadits Ahli Ibadah
Al-Aswad
Bin Yazid
Perawi Hadits Ahli Ibadah
Penulis Kitab Siyar al-A’lam an-Nubala, Imam adz-Dzahabi,
menuliskan biografi Al-Aswad bin Yazid, salah seorang tabi’in perawi hadits
yang dikenal dengan kezuhudannya dan ibadahnya.
Ia senantiasa melaksanakan shiyam walau hari sangat panas sampai bibirnya
menghitam.
Lisannya mengering karena banyak berpuasa, lalu dibasahi dengan
bacaan al-Qur’an. Wajahnya berseri dengan kesabaran dan ketaatan.
Semoga
Allah merahmati Aswad bin Yazid, guru bagi orang-orang yang zuhud, dan salah
satu dari kedelapan tokoh zuhud. Kisah perjalanan hidupnya dipenuhi puasa,
shalat malam, dan haji.
Aswad
bin Yazid berasal dari keluarga berilmu. Ia selalu dekat dengan al-Qur’an,
dengan mengkhatamkan al-Qur’an dibulan Ramadhan setiap dua malam sekali. Pada
selain Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap enam hari.
Ia berpuasa sepanjang tahun sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ,
”TIdaklah disebut orang berpuasa ketika seseorang melakukan puasanya selamanya.
Karena puasa tiga hari disetiap bulannya sama pahalanya dengan puasa sepanjang
tahun semuanya.” (HR. Bukhari, No.495; dan Imam Muslim, No.1159).
Ia
mempunyai nama lengkap al-Aswad bin Yazid bin Qais. Julukannya Abu Amr
an-Nakha’iy al-Kufi. Ia saudara kandung Abdurrahman bin Yazid, salah seorang
tabi’in.
Beliau juga adalah paman dari Ibrahim an-Nakha’iy yang juga
salah seorang tabi’in dan semua keluarganya tinggal dalam satu rumah yang
ditempati para ulama.
Ia
sering berpuasa hingga warna bibirnya menjadi hitam pecah karena sangat kering.
Ia bersusah payah dalam berpuasa sehingga tubuhnya berona hijau karena sangat
kering, kedua matanya cekung, lemah dan sakit.
Aswad bin Yazid juga murid dari sahabat nabi generasi pertama.
Ia berkesempatan untuk meriwayatkan hadits dari para sahabat, antara lain:
Abdullah bin Mas’ud, Muadz bin Jabal, Bilal bin Rabbah, Hudzaifah ibnu Yaman,
Ummul mukminin Aisyah dan para sahabat lainnya.
Salah satu hadits yang diriwayatkan olehnya adalah sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa salam “Peliharalah harta bendamu dengan cara mengeluarkan zakat.
Obatilah penyakitmu dengan sedekah. Hadapilah cobaan yang datang bertubi-tubi
dengan do’a dan merendahkan diri kepada Allah.” (HR. Abu Daud).
Generasi Dahulu dan Sekarang
Rasulullah Saw bersabda “Sebaik-baik masa adalah masaku,
kemudian orang-orang setelah mereka dan kemudian orang-orang setelah mereka.”
Kesalehan generasi
sahabat dan tabi’in memang tak diragukan lagi, mereka adalah orang-orang shaleh
yang banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah. Terlebih di bulan Ramadhan,
mereka akan melipatgandakan waktu untuk beribadah. Begitu pula dengan al-Aswad
bin Yazid.
Dikisahkan bahwa Aswad bin Yazid sangat sering
berpuasa hingga tubuhnya kurus dan lidahnya hitam karena mengering. Namun ia
senantiasa membaca Al-Quran untuk membuat lisannya basah dengan firman-firman
Allah Swt.
Di bulan-bulan
biasa, Aswad bin Yazid selalu mengkhatamkan Al-Quran sekali dalam seminggu.
Sedangkan di bulan Ramadhan ia semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas
bacaannya, ia mampu mengkhatamkan Al-Quran hanya dalam waktu dua hari.
Selain berpuasa
dan membaca Al-Quran, Aswad bin Yazid juga sering berhaji. Ia telah berangkat
ke baitullah sebanyak 80 kali, baik untuk berhaji maupun umrah. Selama
hidupnya, Aswad bin Yazid banyak beribadah dan menyedikitkan tidur, waktu
tidurnya hanya antara magrib dan Isya.
Ia diberikan apresiasi sebagai orang-orang yang bekerja keras
karena taat kepada Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan menjalankan
ibadah haji.
Ia
belajar dari banyak sahabat Rasulullah ﷺ, hingga mendapatkan kesempatan untuk
meriwayatkan hadis dari Muadz bin Jabal r.a, Bilal bin Rabah r.a, Abdullah bin
Mas’ud r.a, Ummul Mukminin Aisyah r.a, Hudzaifah bin Yaman r.a dan para sahabat
generasi pertama lainnya.
Bukan berarti shalat dan ijtihad yang menjadi konsentrasinya
menjadikannya melalaikan kewajiban agama lainnya. Ia juga memberikan perhatian
pada kewajiban-kewajiban agamanya serta hak-haknya.
Ia
sering berpuasa hingga warna bibirnya menjadi hitam pecah karena sangat kering.
Ia bersusah payah dalam berpuasa sehingga tubuhnya berona hijau karena sangat
kering, kedua matanya cekung, lemah dan sakit.
”Mengapa
engkau siksa tubuh ini, wahai Abu Abdurrahman?” tanya Alqamah bin Martsad,
seorang sahabatnya.
”Saya
menginginkan istrahatnya tubuh ini, wahai saudaraku, wahai orang yang punya
kesungguhan.”
Asy-Sya’bi
mengapresiasikan sifat Aswad dengan tiga kata, ”Ia adalah shawwam (banyak
berpuasa), qawwam (banyak shalat malamnya), hajjaj (banyak hajinya).”
Lalu teman-temannya berkata,”Wahai Abu Abdurrahman, mengapa
engkau bersedih seperti ini?”
”Bagaimana
saya tidak bersedih. Sungguh demi Allah, sekalipun saya mendapatkan ampunan
dari Allah SWT, saya masih sangat malu atas apa yang sudah saya perbuat.
Sesungguhnya seseorang akan berada diantara dirinya dan dosa kecil terakhir,
lalu Allah mengampuninya. Saat itu, rasa malu pada Allah pun masih tetap ada.”
Wallahu A’lam bis Shawab…
Komentar