Tentang Dia, Gadisku..

Tentang Dia, Gadisku ..

: Azzura Ayzhie
___

Dia, bayi kecil yang menangis di hari rabu saat sepertiga awal pagi. Pada sembilan belas tahun lalu seraya tangis haru, mata sembap, dan mulut penuh dzikir. Benih air mata menetes dalam pelukan Bapak. Udara dunia terasa begitu asing baginya. Nafas hembus trenyuh warna biru dalam ruang praktek. Rona bahagia setelah menunggu hampir setengah hari sebelum subuh. Putih bersih dengaan tali pusar yang masih menempel. Dijapit dipotong oleh tangan yang terbungkus sarung. Kumandang adzan di telinga kanan setelah sebelumnya bermandikan air hangat dan minyak bayi. Suara pertama dengan nada gemetar bangga. Disusul iqomah yang membisiki gendang telinganya dari kiri.

Berjalan menapak kearah depan. Mulai merangkak, berdiri, berjalan, dan berlari. Seakan siap menantang indahnya dunia. Kulihat dia yang kemarin masih menempel di pusar kini sudah mulai mengenal teman. Seragam monyet warna biru dipadukan dengan dasar putih, dia siap mengeja, rumitnya huruf-huruf yang dilihat. Sepatu ukuran 25, sebagai alasnya untuk berlari saat itu. Tawa girang lelaki yang membisikkan adzan kemarin pagi berharap gadis kecilnya menuntunnya kearah surgaNya.  Petuah lelaki untuk selalu berhati-hati dalam menapak. Dia yang masih miskin wacana dunia, seakan tak menggubris kata Bapaknya walau kelak dia selalu merindukan kata itu. Dengan dituntun seorang wanita, dia berjalan sambil bernyanyi menyusuri langkah awalnya dalam menapaki kehidupan.

Memanjat semakin tinggi, dirasakan angin yang semakin kencang. Kini yang dia tahu bukan hanya abjad tanpa makna. Barisan huruf membentuk kalimat, mampu dia rangkai untuk mengungkapkan yang di benaknya. Cinta, ya itulah yang sudah mulai dia rasakan saat ini. Namun, didikan bapaknya yang menginginkan jannah mampu meredam kata tersebut. Berani bicara lewat gawai tanpa bertemu. Dalam lingkungan yang memisahkan antara dua insan bukan halal, juga kesadaran akan tugas mulia yang diembannya, membuat Si Bayi Kecil membangun prinsip yang kuat. Hal ini yang membuat dia semakin terlihat cantik di mata siapapun yang memandangnya. Walaupun di tengah jaman yang kata orang sedang tak bersahabat dengan moral, dia mampu mempertahankan prinsipnya. Jaman dimana tak ada lagi kepercayaan. Jaman dimana tak ada lagi kesetiaan.

Prinsip hidupnya semakin kuat. Ingin sekali menyuarakan kebenaran adalah kebenaran dan kekeliruan adalah kekeliruan. Tetap terus belajar dan berusaha. Meraih apa yang dicita-citakannya. Cita-cita mulia hasil warisan dari sang bapak. Gadis yang tadinya hanya seonggok daging tak berdaya, telah melalui seperempat hidupnya. Berjalan terus, belajar terus, berusaha menyuarakan kebenaran. Cinta yang tadi dia rasa tenggelam dalam kisah cita-cita dan prinsip. Inginnya lebih besar dari gunung gedhe pangrango. Ingin mengajak Bapaknya menuju jannah. Dengan tetap memegang prinsip dan nasehat Bapak, untuk selalu berhati-hati. Berhati-hati dalam berjalan, hati-hati dalam berlari.


_ AyNote _

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al Aswad bin Yazid - Perawi Hadits Ahli Ibadah

InsyaaAllah bisa...

Tapi susah :(