Ruang horror yang mengagumkan

CERBUNG PART 4

Jawaban tadi terus mengiang-ngiang di otakku. Sampai pada waktu berjalan dalam proses pembelajaran. Kebetulan ada pelajaran yang di dalamnya dimuat juga kegiatan Tahfidz atau biasa disebut kegiatan menghafal Al-Qur’an. Aku pun sangat tertarik dan begitu antusiasnya dalam menghafal. Entah kenapa ada rasa senang ketika menghafal Al-Qur’an.

Sederhana saja, menghafalnya dimulai dari surat-surat pendek di juz 30. Namun tidak hanya dihafal, tapi juga harus benar-benar memperhatikan Tajwidnya. Tidak sia-sia perjuanganku, nilai Tahfidzku juga lumayan bagus untuk predikat Mumtaz dan Jayyid Jiddan. Dalam hati senang sekali bisa setoran surat seperti ini.

Dari situ juga sebagian guru memberikan perhatian lebih kepadaku. Terlebih ketika aku sedang belajar, tiba-tiba aku mendapat panggilan dari seorang Guru yang juga merupakan Wakil Kepala Sekolah. Seketika aku terkejut. “ Kenapa harus aku aja yang di panggil? Yang lainnya kenapa enggak? “ Tanyaku dalam hati.

Sesampainya di Ruang Guru, didapati ada seorang Ibu-ibu yang usia nya terlihat masih muda dan tentunya Bapak Guru ku. Akupun semakin bingung. Di panggil oleh Guru dan ada seorang Ibu-ibu yang bahkan bertemunya sekali saja aku tidak pernah. Dalam hati semakin takut.

“ Assalamu’alaikum… “ Akupun berucap dengan sedikit gugup. Pak Guru dan seorang Ibu-ibu yang sedang berbincang pun langsung menoleh dan menjawab salam kepadaku.

“ Wa’alaikumussalam.. Eh, Azizah.. Masuk Nak.. “ Katanya sambil tersenyum.

Dalam hati sedikit lega. Karena ada senyum yang mengembang disana. Setidaknya ini bukan sebuah pertanda buruk..

Kemudian Bapak Guru membuka pembicaraannya kepada seorang Ibu tadi seraya memperkenalkan aku kepadanya. Makin bingung..

“ Nah, jadi ini Bu yang namanya Azizah.. Santri MTS disini yang InsyaaAllah hafalannya sudah banyak di kelas. “

“ Hah? Hafalan? Jangan-jangan… “ Bisikku dalam hati.

“ Oooh.. Azizah ya? “ Tanyanya dengan senyuman ramah.

“ Hehe iya bu.. “

 Jawabku dengan senyum yang agak terlihat terpaksa karena masih terasa grogi ditambah dengan ruangan yang bersuhu dingin.

“ Nah, Azizah.. Jadi Ibu ini mau mendengarkan hafalan kamu.. “

“ Hah? Hafalan yang mana Pak? “ Tanyaku bingung.

“ Terserah kamu yang mana aja. Yang lagi dihafal juga boleh.. “ Jawab Pak Guru.

Akupun langsung berpikir cepat dan mencari-cari surat di file memori otakku untuk segara dibacakan. Kebetulan, akhir-akhir ini aku sering mendengarkan dari Qari’ favoritku yaitu Muhammad Thaha Al Junayd sambil mengulang-ngulang hafalan yang sudah pernah ku hafal sebelumnya.

“ Hmm.. An-Naba aja ya Pak.. “ Pintaku.

“ Oohh boleh boleh.. Silakan.. “

Senyumannya terlihat lagi. Tidak lupa juga sorotan Ibu tadi terus memperhatikanku.

Aku yang masih agak malu-malu tapi memaksakan diri langsung membaca agar cepat selesai dan keluar dari ruangan horror itu. Maklum, keadaannya masih sangat mencekam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al Aswad bin Yazid - Perawi Hadits Ahli Ibadah

InsyaaAllah bisa...

Tapi susah :(