Pernah culun

CERBUNG PART 5

Pertama-tama ku ucap Ta’awudz dan Basmalah selanjutnya kepada isi Surat An-Naba.

Terus ku lantunkan seraya menutup mata agar terasa lebih santai dan tentunya menghindari sorotan mata.
Sampailah pada akhir ayat dan selesai. Pak Guru pun memberikan sebuah kata-kata yang aku agak sedikit lupa karena sudah lama sekali. Yang masih aku ingat, setelah itu aku diberi sejumlah uang yang lumayan besar., ( Yang di ingetnya uang doang ) Hehe…

Maklum,, waktu se-usia itu memegang uang dalam jumlah yang lumayan ya cukup membuatku senang..
Beliau memang guru terfavoritku. Selain karena beliau orang yang ramah dan baik hati, pelajaran beliau sangat menyenangkan ditambah terkadang ada sesi humor di tengah-tengah pelajaran. Meskipun begitu, metode pengejaran beliau membuat pelajaran mudah difahami.

Dan entah kenapa sampai ketika MTS ini, aku masih menyukai pelajaran pada bidang-bidang Agama. Tak ketinggalan pelajaran Bahasa Inggris juga sangat ku gemari. Hampir semua pelajaran kecuali Pendidikan Kewarga Negaraan atau yang biasa disingkat PKN dan pelajaran Matematika.

Kalau PKN, entah kenapa aku bosan dengan hal yang disampaikan. Terlalu monoton menurutku. Kalau Matematika, jangan ditanya. Melihat angka-angkanya saja seperti beterbangan di kepalaku. Lebih baik aku merangkai rumus grammar Bahasa Inggris darpada harus bertemu dengan angka-angka Matematika.

Memang sejak awal aku tidak menyukai pelajarannya, ditambah ada suatu kejadian dimana hal itu dilakukan oleh Guru sendiri dan sampai saat ini aku masih trauma untuk mengingatnya kembali. 

Perih, bukan?

Dan menurutku, dimasa-masa MTS ini lah dimana masa-masa sekolah yang paling berkesan. Karena disitu aku mulai mengenali apa arti tentang makna persahabatan dan kebersamaan.

Menjalani warna-warni dan corak kehidupan yang berbeda setiap harinya. Kemudian tak terasa waktu kami tinggal menjalani Ujian Nasional dan bebas dari itu.

Merasakan moment-moment perpisahan tentu menjadi hal yang sangat sensitive bagi siswa yang sudah membersamai dalam 3 tahun lamanya. Disini ada aku dan mereka. Bagaimana semua dimulai dari perkenalan culun kami, tawa canda yang garing sampai tegangnya kelas ketika guru sedang marah. Dan itu yang baru kami sadari mengapa kami seculun itu ketika dulu pada masa putih biru.

Sepertinya hal ini sering menjadi ritme fikiranku ketika sedang sendiri. Merenungi dan tertawa atas masa silam yang pernah menimpa diri. Tidak terasa sudah sampai sebesar ini. Senyum mengembang di ujung sudut bibir dan lipatan tipis di bagian bawah mata menjadi terlihat jelas.

“ Zah, gimana? Mau lanjut kemana nanti setelah ini? “ Tanya temanku yang membuat lamunanku buyar pada saat itu.

“ Gak tau nih. Gua masih bingung. “ ( Mungkin masih sedikit labil, ya ).

“ Yaa jangan bingung-bingung. Gua juga sih masih bingung.. “

“ Aih, kumaha sih.! “ Celetukku.

Setelah hari-hari itu kemudian terus berlanjut.Hari demi hari terlewati sampai aku memutuskan suatu keputusan yang tepat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al Aswad bin Yazid - Perawi Hadits Ahli Ibadah

InsyaaAllah bisa...

Tapi susah :(