Pengembaraan Seorang Manusia
Pengembaraan Seorang Manusia
Oleh :
Azzura Ayzhie
Manusia yang
hidup mengembara dalam dunia ini adalah pembelajar. Ada pembagian yang berbeda
dalam aspek ini. Mereka yang belajar seolah-olah mengembara hanya untuk mengarah
kepada hal yang bersifat sementara seperti dunia. Tidak jarang pula yang
memikirkan akhirat. Keduanya saling berlomba untuk mencapai garis finish
terlebih dahulu. Namun, ada kalanya tidak tahu menahu akan keberkahan dari
usahanya yang di dapat.
Ada yang
berusaha bekerja untuk dunia, sehingga kewajiban akhiratnya di lalaikan. Ada
juga yang berusaha mengejar akhirat, sehingga kehidupan dunia juga di lupakan.
Hal ini tentu tidak etis. Alangkah lebih baiknya jika dunia dan akhirat di
genggam secara bersamaan kemudian memperoleh keberkahan karena hanya berlandaskan
Allah sebagai tujuan.
Tidak ada
salahnya bekerja untuk dunia, asalkan tidak melupakan akhirat. Tidak ada
salahnya juga beribadah untuk akhirat, namun tidak juga sampai akhirnya dunia
tidak di seimbangkan. Dan juga, yang terpenting ialah jangan menyimpan urusan dunia
di hati, karena dunia tidak bersifat abadi. Cukup lah akhirat yang di simpan
kekal di hati, karena tujuan terakhir hanya kepada Allah lah tempat kembali. Lalu
bagaimana dengan konteks : “ Kejarlah
akhirat niscaya dunia akan mengikuti? “
Nah, disitulah
perbedaan pada point keberkahannya. Orang yang memprioritaskan akhirat akan
pasti di ridhai oleh Allah di dunia. Sehingga mengapa dunia lebih mudah mengikutinya.
Namun, kita juga tidak bisa menyalahkan orang lain yang sudah Allah anugerahi
kemampuan yang mumpuni pada usaha dunia. Karena setiap kemampuan pada diri
manusia itu tidaklah sama. Semua pasti beragam.
Hanya saja,
perbedaannya entah itu ia bekerja pada dunia maupun akhirat, loyalitaskan semua
usaha dan kemampuan hanya untuk mencari ridhaNya. Dunia dan akhirat sama-sama
di genggam, keberkahan dunia dan akhiratpun pasti didapatkan.
_ AyNote _
Komentar