Lagi flashback ceritanya..

CERBUNG PART 3

Masa- masa kecil yang di penuhi dengan warna. Ada kisah canda tawa dan haru bercampur rindu. Ingin rasanya kembali lagi menjadi seperti anak kecil..

Teringat ketika aku masih duduk di kelas 1 SD, Ibuku menunggu sekolah sampai bel menandakan pulang. Semua siswa-siswa kecil dengan otomatisnya mereka bersiap merapikan buku-buku untuk dimasukkan kembali ke dalam tasnya. Dan satu persatu dari mereka mencari Ibunya, termasuk aku.

“ Ibuuu.. “…

Aku yang setengah berteriak waktu itu karena sempat ingin menangis ketika tak menemukan sosok Ibu yang menjemput. Tapi, akhirnya ku dapati Ibu yang setia menunggu dengan senyumannya yang tulus.

Lalu Ibu menggenggam kedua tangan mungilku sampai akhirnya tiba di rumah.

Memang, kasih sayang Ibu tidak ada duanya sampai ketika sudah dewasa nanti.

Kemudian sampailah pada usia 12 tahun. Dari sana akupun melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyyah atau yang biasa disebut dengan Sekolah Menengah Pertama, masih di kawasan Jakarta. Hanya saja, tempatnya lumayan jauh dari rumahku dibandingkan sekolah sebelumnya.

Pada usia ini, di kategorikan sebagai remaja awal. Sudah mulai pandai bergaul, mencari teman, dan intinya : Proses pembentukan kepada usia dewasa. Meski masih suka terlihat lugu dan polos karena masih proses pengenalan pada saat itu.

Yang baru aku ketahui, sebelum masuk pada proses KBM ( Kegiatan Belajar Mengajar ), pada awal semester baru diadakan proses pengenalan. Entah itu pada lingkungan sekolah, asal-usul sekolah, guru-guru, kaka kelas, dan pastinya kepada teman-teman.

MOS namanya. Pasti sudah tidak asing bukan dengan kata itu? Yups.. Masa Orientasi Siswa.

Dari sana aku mendapatkan banyak teman dan berbagai pengalaman yang menyenangkan.

Alkisah pada 1 hari itu, semua siswa dibentuk menjadi lingkaran besar. Dan para kaka-kaka senior berdiri di tengah untuk memandu acara. Sesi materi pada saat itu, tidak jauh dari biodata. Dengan ber-isikan nama, tempat tanggal lahir, hobi, cita-cita dan seterusnya.

Satu persatu diberi pertanyaan oleh kaka senior. Semua mendapat giliran dari ujung sampai ke ujung lagi. Dan tibalah giliranku untuk di intograsi.

Sampailah pada pertanyaan tentang cita-cita. Akupun bingung harus menjawab apa ketika diberi pertanyaan itu. Maksud hati ingin menjawab jawaban yang sama dengan teman-teman yang jawabannya tidak jauh dari Guru dan Dokter.

Tapi bagiku itu jawaban yang sudah sangat sering. Aku ingin mencari jawaban yang lebih unik lagi. Dan entah kenapa terlintas di fikiran dan sontak ku lontarkan jawaban : “ Menjadi Penghafal Al-Qur’an. “

Alhasil semua pasang mata langsung menatapku secara tajam. Aku bertanya dalam hati : “ Apa ada yang aneh dari jawabanku ya? “

Tiba-tiba kaka senior yang bertanya kepadaku saat itu langsung memberikan semacam pujian. Sedikit malu karena dilihat banyak pasang mata seperti menjadi pusat perhatian. Aku pun juga masih bingung kenapa harus menjawab cita-cita tersebut tadi?

Padahal dengan jujur hati berbisik : “ Pegang Al-Qur’an juga kalau lagi ada pelajarannya. Apalagi kalau dibuat untuk menghafal? “ Kan bingung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al Aswad bin Yazid - Perawi Hadits Ahli Ibadah

InsyaaAllah bisa...

Tapi susah :(