Keistimewaan yang berbalut kesederhanaan

Keistimewaan yang Berbalut Kesederhanaan

Oleh : Azzura Ayzhie

“ Al Khawarizmi adalah seorang Ilmuan Muslim ahli Matematika yang menemukan konsep aljabar, bu.. “ Jawab salah seorang temanku.

“ Iya benar, Dzaky. Kelompok mu mendapatkan point yang hampir mendekati sempurna. Tinggal kita tunggu satu babak selanjutnya untuk menentukan kelompok siapa yang berhak memenangkan Lomba Cerdas Cermat ini. Dan bagi kelompok lain, diharapkan untuk mengejar nilai yang tertinggal. “
Bu Zulfa memberikan penjelasan sekaligus peringatannya.

Setelah di beri penjelasan dan pengarahan, masing-masing kelompok sibuk membicarakan strategi untuk memenangkan lomba yang tengah berlangsung  serta berdiskusi tentang apa yang sebelumnya telah di pelajari.

Tidak hanya tegang, suasana kelas berlangsung ramai dalam sekejap. Dan seketika berlangsung hening ketika Bu Zulfa memberikan isyarat bahwa kami harus berhenti berdiskusi. Itu tandanya, akan dibacakan pertanyaan selanjutnya.

“ Masih tentang sejarah. Sebutkan 3 Ilmuan Muslimah yang berkontribusi dalam Peradaban Islam ! “

“ Teeettt..!! “  Kali ini, bel yang berbunyi berasal dari podium kelompok kami.

“ Maryam Al-Astrulabi, Lubna, dan Labana. “ Jawabku yakin.

“ Iya benar, Azkiya. Wah, point yang hampir sama dengan kelompok Dzaky. “

Rupanya, Bu Zulfa terpaku pada 2 kelompok tersebut. Itu artinya, kita memang sedang bersaing.

Babak terus berlanjut dengan sengit. Masing-masing kelompok mengejar ketertinggalan  untuk mendapatkan nilai yang sempurna di babak final. Dan begitupun kelompokku. Sebagai ketua kelompok, aku harus bisa mengarahkan focus pada masing-masing anggota.

“ Oke, pertanyaan terakhir ya.. “

Tak terasa sudah sampai pada penilaian terakhir. Tanganku pun mulai gatal untuk segera menekan bel yang tersedia di atas podium. Bukan hanya itu, jantung ku juga mulai berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Karena nilai kelompok antara aku dan Dzaky, hanya berbeda 10 point.

“ Sebutkan nama Universitas pertama di dunia dan dibangun pada tahun ke berapa ? “

Keringat mulai membasahi sekitar keningku.

“ Aduh,, apaan ini. Soal sejarah berbentuk hafalan angka. Kalau soal nama Universitasnya, aku tahu. Tapi aku tidak ingat betul tahun ke berapa Universitas itu didirikan . Bagaimana ini.. “ Gerutuku sambil menyesali diri.

Sontak, aku mulai tersadar ketika kelompok lain ada yang menekan belnya.

“ Universitas Al-Qarawiyyin yang dibangun pada tahun 859 Masehi. “

“ Yah, dia lagi.. dia lagi.. “ Gerutuku melanjut.

Sampai pada akhirnya, lomba ini dimenangkan oleh kelompok Dzaky.
Terlihat raut wajah bangga pada kelompok mereka.

“ Ya, memang seharusnya begitu. Aku juga bangga dan sekaligus bersyukur, bisa mengikuti lomba semacam ini. Ya, walaupun bukan juara 1. “

Aku mulai penasaran, siapa sebenarnya Dzaky itu. Dia cukup populer di antara se-antero kelas.
Bukanya aku tidak pernah kenal sama sekali. Namun, kali ini ia semakin membuatku penasaran.
Dia memang tidak banyak berteman dengan yang lain, tetapi banyak di antara teman-temanku yang tahu banyak hal tentang dia. Aku? Baru kali ini penasaran tentang keberadaanya..

Suatu ketika aku pernah membuntutinya ketika pulang sekolah. Baru kali ini aku berlaga seperti agen FBI yang sedang mengincar buronan. Aku menerka sedikit tentang sesuatu yang ingin dia lakukan. “ Paling membaca buku.”

Tak lama kudapati ia sedang duduk di tanah lapang berumputkan hijau nan luas seraya melihat anak-anak kecil yang riang sedang bermain layang-layang. “ Sial. Perkiraanku salah. Jauh sekali.” Dan tampaknya ia bahagia sekali seperti itu.

Aku memberanikan diri untuk menemuinya. Sebenarnya aku berani-berani saja, tapi kalau tiba-tiba aku menemuinya dalam keadaan seperti ini sih, pasti dia curiga. Gumamku.

Baru satu langkah lagi tepat di belakangnya, ia berkata :

“ Ada apa? Sepertinya kau penasaran denganku ya? “

“ Hah? Hmm.. Tidak, kok! Aku hanya kebetulan lewat sini.. “ ( Sial ! ) Dalam hati.

“ Oh yasudah. Kenapa hanya berdiri disitu saja? “

Kemudian aku duduk agak jauh dari tempatnya.

“ Apakah kegiatanmu sepulang sekolah seperti ini? Melihat anak-anak bermain layang-layang? “ Tanyaku makin penasaran.

“ Hahaha… “

Apaan sih, ditanya malah ketawa!

Memang tidak boleh ya? Aku hanya ingin mengurangi penatnya otak sesudah belajar tadi.. Dan kau tahu? Melihat layang-layang terbang saja, sudah membuat penatku berkurang..”

Ternyata dia cerewet.

Memangnya kenapa? Ada apa dengan layang-layang itu? “

“ Lihat saja. Ia diciptakan dengan penuh kesederhanaan. Tapi mampu membuat dirinya terbang ke angkasa bahkan menandingi benda-benda lain yang bahkan di buatnya saja sulit.”

“ Lalu, apa istimewanya? “ Gumamku berbisik.

“ Tidak ada yang istimewa. Aku hanya ingin menjadi layang-layang itu. Ia terbang mengangkasa tapi tak lupa akan kesederhanaanya. Dan itu yang jarang ku lihat dari kebanyakan orang lain dibumi ini ketika sudah Allah beri kemampuan yang hebat, tapi ia malah lupa akan kerendah hatiannya.”

Aku merasa tertampar. Dan, dia terus bercerita kemudian aku hanya menjadi pendengar yang baik saja sampai akhirnya senja sore berkata kepada kami untuk mengusaikan ceritanya.

#tantangan


_ AyNote _

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al Aswad bin Yazid - Perawi Hadits Ahli Ibadah

InsyaaAllah bisa...

Tapi susah :(