Idaman bangeett
CERBUNG PART 7
Kebetulan setelah kunjungan kami ke Majalengka, ada
satu agenda di mana hal itu menjadi sejarah pertama dalam hidupku. Yaitu
berkunjungnya kami ke Pondok Pesantren di daerah Kuningan. Jarak antara
Kuningan dan Majalengka cukup lumayan jauh, namun tak terasa jika sepanjang
perjalanan di selingi tawa candaaan.
“ Kita mau kemana, Bu? “ Tanyaku karena sebelumnya
belum di beri tahu.
“ Ke Ponpes Husnul Khatimah. Nengokin Teh Atin.. “
“ Oooohh…” Hanya itu saja yang bisa ku jawab sambil
membayangkan.
“
Ke Ponpes? Asyiikk… Gue bisa ngeliat dong gimana keadaan Pondok-pondok pada
umumnya. Sekalian survey kali, yaa.. Biar gak kaget aja gituh.. “
Batinku terus berbicara.
Saking lelahnya memikirkan hal itu, aku sampai
tertidur sepanjang jalannya.
Tak terasa sudah sampai maghrib. Dan…
“ Syyutt.. Bangun bangun… Udah nyampe.. “ Ibu
membangunkanku.
Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku sembari
menerka-nerka bayangan apa yang akan timbul setelah ini.
Pemandangan pertama yang ku lihat saat itu ialah bangunan
Pondok yang sangat luas dan megah. Pertama kali ketika aku masuk pada sebuah
gerbang besar ada sebuah taman di tengha-tengah Pondok. Taman yang bermandikan
air mancur dan kolam ikan yang jernih menambah kesan suasana nyaman dpondok
ini.
Kemudian, aku melihat pada bangunan-bangunan asrama
yang besar bertingkat sekitar 4-5
tingkat. Berada pada sisi kanan dan kiri taman kolam air mancur tersebut.
Pandanganku memutar ke seluruh sudut Pondoknya.
Terlihat beberapa santri Akhwat sedang duduk di depan teras asrama sembari
menghafal Al-Qur’an. Seketika aku langsung jatuh cinta dengan semua ini.
“
Yaa Allaahh.. Ini mah idaman bangeett.. “ Harapku dalam
hati.
Tapi sayang, waktu ku disana tidak lama. Hanya
berselang beberapa jam untuk shalat maghrib kemudian ikut serta dalam dzikir
bersama. Setelah itu pergi dan tak kembali lagi.
Kejadian itu tak akan pernah ku lupa bahkan ketika
aku mempunyai Pondok baru.
Besoknya, aku sudah kembali lagi ke Jakarta.
Meskipun kata orang-orang kota ini terbilang padat akan manusia, banyak
tercemar polusi, dan kemacetan yang amat parah. Tapi tetap bagaimanapun, aku
akan selalu mencintai kota ini sebagai tenpat kelahiranku. Mencintai dengan
cara merawat lingkungan sekitarnya. Dengan menanam pohon/tanaman di sekitar
rumah misalnya, sedikit banyak hal itu sangat bisa membantu.
Kemudian pada hari berikutnya, rasa penasaran ku
muncul ketika sudah sampai batas benar-benar yakin akan keputusan yang telah ku
pilih. Mulailah aku mengotak-atik smartphone yang biasa meneman keseharianku.
Ku fikir ada banyak juga manfa’at dari kegunaannya. Bisa menggali informasi
dengan jangkauan yang begitu luas.
Komentar