Ciiiee.. Khitbah..

CERBUNG PART 6

“ Gua pengen ngerasain hidup di pondok, pengen ngerasain gimana belajar dalam tentang agama, pengen punya temen-temen yang pinter dan sholeh, pengen belajar hidup jauh dari orang tua, dan bla bla bla.. “

Fikiranku terus menerawang akan keputusanku pada saat bimbang tengah menimpa.

Tentu saja tidak hanya bimbang belaka. Ada usaha untuk bisa memperjelas situasi itu semua. Kemudian aku berusaha mengongsikannya pada Dia, tempat dimana aku mengadu atas semua cerita.

Istikharah yang kulakukan dalam beberapa malam berturut-turut memberikanku sebuah jawaban. Entah itu pada mimpi atau sebuah kemantapan hati atas keputusanku saat ini.

Awalnya memang tidak ada yang mendukung untuk itu, namun semua berusaha ku yakinkan. InsyaaAllah niat baik tak akan timbul sebuah keburukan.

Lagi pula, tidak ada salahnya jika kita mau berusaha berubah pada keadaan yang lebih baik lagi, kan?

Mungkin tidak sepenuhnya juga, jika kita sudah berada dalam lingkungan Pondok Pesantren, semua hal kebiasaan kita akan berubah menjadi drastis. Tidak. Semua pasti butuh yang namanya proses. Nah, yang ku inginkan dalam proses itu, entah bagaimana nanti hasilnya, setidaknya ada langkah awal yang baik untuk semua. Pada hasil nanti, ku serahkan pada Dia. Pengendali atas semua.

Hari-hari terus berlanjut. Tapi masih hangat keadaanya saat anak-anak sekolah melanjutkan pendidikannya pada sekolah terfavorit atau sekolah yang ia impikan. Ditambah lagi, masih dengan suasana libur panjang. Begitu bebasnya aktivitas setelah seharian lelahnya belajar setelah melaksanakan Ujian Nasional tahun-tahun kemarin.

Ada moment istimewa pada saat liburan panjang ku tengah berlangsung. Yaitu berkunjungnya kami sekeluarga untuk mempersunting calon istri dari Kakakku yang pertama. Sedikit haru dan bahagia bisa merasakan bagaimana Kakakku menjatuhkan hatinya pada seorang perempuan di daerah Majalengka. Kunjungan kami dari Jakarta ke Majalengka cukup panjang dan cukup lelah pastinya.

Tapi, kelelahan tidak begitu tampak pada wajah Kakakku yang roman-romannya ingin mengkhitbah seorang ratu di hatinya. Cieelah..

Wajahnya begitu tegang seperti ingin di eksekusi oleh hukum. Namun, di balik itu semua pasti tersimpan rasa senang akan kunjungan kami.

Mungkin di sepanjang jalan pembicaraan kami lebih banyak berisi tentang teknis pengkhitbahan nanti dan sebagainya. Kalau aku sih, diam saja. Kalau berbicara malah menambah keruh suasana.. Maklum bawaannya pengen ngeledek terus.. :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al Aswad bin Yazid - Perawi Hadits Ahli Ibadah

InsyaaAllah bisa...

Tapi susah :(