Thinking !
Thinking !
Oleh :
Azzura Ayzhie
Kita sebagai manusia yang notabene nya adalah makhluk
sosial, wajar jika ada yang memberikan komentar pada hidup kita. Karena yang
namanya hidup, pasti Allah memberikan ujian bagi hamba-hambaNya. Tidak hanya
ujian, Allah pun memberikannya dengan satu paket bernama solusi. Kalau kita
tidak dibuat marah, kapan kita harus belajar bersabar ? Kalau kita diciptakan
dua tangan, kenapa hanya satu mulut yang digunakan ?
Bersosialisasi pun juga ada batasannya. Jangan sampai
perbuatan, ataupun perkataan kita menyakiti hati yang lain. Entah itu kepada
manusia ataupun hewan. Meskipun manusia bukanlah tempat yang luput dari dosa,
tapi setidaknya kita diberikan “ akal “ oleh Allah untuk senantiasa berfikir.
Yang pasti, hal itu yang membedakan antara kita sebagai manusia dengan hewan
agar kita bisa meminimalisir mana perbuatan kita yang bermanfaat buat orang
lain ataupun tidak.
Kalau sekiranya, hal itu tidak membawa dampak positif bagi
orang lain dan malah memberikan dampak negatif bagi yang lain juga, sebaiknya
berhenti saja. Karena apa ? Dampak negatif tersebut bisa menjadi hal yang “
menyiksa “ bagi dia dan hal yang bisa “ menyebar “ efeknya buat orang lain.
Kita tahu, sudah kewajiban kita mengingatkan hal-hal yang
wajib diingatkan. Dan pasti, kita mengutamakan hal yng wajib terlebih dahulu.
Jangan paksakan sesuatu yang “ dia “ pun bisa mengendalikannya sendiri. Karena
apa ? Karena, sesuatu yang dipaksakan adalah hal yang tidak baik, bukan ?
“ Lho, bukankah ada
istilah : Bisa karena terpaksa, terpaksa karena terbiasa ? “
Ingat, disini ada poin utama yang perlu diketahui. Ya,
memang kita harus memaksakan kehendak seseorang “ selama itu dalam kebaikan “
dalam rangka kita memperdulikannya. Sebagai contoh, kita mengajak teman kita
untuk memakai khimar dan jilbab sebagai bentuk rasa sayang kita dan bentuk
keperdulian kita terhadap teman. Awalnya memang dia mungkin terpaksa karena
tidak terbiasa memakai busana muslimah tersebut. Tapi lama-kelamaan, pasti juga
akan timbul rasa “ tersadarkan “.
Nah, poin yang berbeda terjadi jika kita memaksakan
seseorang untuk mengikuti kehendak kita, Itu sudah berbeda jalurnya. Nanti yang
timbul adalah perkataan yang berasal dari hawa nafsu semata. Bukan lagi dari
akal kita. Faham ?
Artinya, orang lain juga berhak menikmati hidupnya sendiri
tanpa harus diganggu. Dengan kata lain, dia mempunyai wilayah “ privacy “.
Bukankah tidak senang jika diantara kita ada yang hidupnya selalu diusik orang
lain ? Fahami bahwa masing-masing kita mempunyai prioritas yang berbeda. Dan,
yang paling tahu betul kedepannya adalah diri kita sendiri. Kita sudah mengenal
pribadi kita seperti apa dan “ kebahagiaan “ kita sendiri pun, hanya kita
sendiri yang bisa memilah.
Kalau kita terus-terusan memaksa orang lain dengan kehendak
kita, yang terjadi nanti adanya pergolakan batin. Bagaimana tidak ? Melakukan
sesuatu karena terpaksa yang akhirnya menimbulkan keterpaksaan. Secara tidak
langsung, kita bisa merusak kondisi psikologis orang tersebut.
Diingatkan boleh hanya dalam mengingatkan dalam kebaikan,
apalagi jika hal itu berkaitan dengan perintah Allah. Namun, kita juga harus
sadar “ zona “ kita berada dimana.
Ini hanyalah sebuah pesan bagi diri kita yang “ tanpa sadar
“, lisan dan perbuatan kita bisa menyakiti orang lain. Jika yang dirasakan malah
berbanding dari pesan ini, artinya kamu butuh sandaran kepada Sang Maha Kuat. Allah
sudah tahu betul, sampai mana kemampuan hambaNya dalam menjalani skenarioNya.
Sebagaimana pesan yang sudah Allah sampaikan dalam sepenggal ayat Al-Qur’an Surat Al Baqarah 286 :
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ
“ Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. “
Ayat ini yang selalu bisa menjadi kekuatan tersendiri bagi
saya. Rasakan dan resapi kekuatan ayat yang sudah tersampaikan melalui
kalamNya.
Trimakasih.. J
_ AyNote _
Komentar