Sapaan Impian

Sapaan Impian

Oleh : Azzura Ayzhie

Baru saja kemarin, impian itu menyapaku kembali. Mengajak serta merangkul aku yang masih saja berdiri dengan rasa pesimis ini. Apakah itu suatu kebetulan? Ku rasa tidak. Mungkin itu sebuah pertanda, bahwa masih ada mentari yang harus ku saksikan kemilau terangnya. Ya, semuanya melalui jalan yang harus ku tempuh ini.

Lumayan lelah. Dari suasana terik matahari sampai waktunya rembulan menampakkan sinarnya. Tapi, tak merasa tersesali dengan hal itu. Karena aku bisa mendapatkan pelajaran dari perjalanan yang berharga ini. Tidak terlalu waw, sih. Hanya saja, rasanya itu begitu menjadi cambuk motivasi buatku
.
“ Kamu jangan terlalu nyaman sama hidup kamu. Harus keluar dari yang namanya zona nyaman. “
Begitulah kira-kira yang di ucapkan mentorku. Kami berbincang-bincang dengan pembicaraan yang lumayan panjang.  Seraya mengatasi rasa bosan yang biasanya menyerang para pengguna jalan saat di landa kemacetan. Begitu juga dengan fikiranku. Tak henti-hentinya berfikir tentang apa jawaban yang tepat dari semua pertanyaan-pertanyaan ku selama ini.

Memang benar, tak ada salahnya juga mengaplikasikan apa yang beliau katakan. Kalaupun ada rintangan di tengah perjalanan, maka itu adalah sebuah pengalaman yang berharga dalam kehidupan. Tekad, keberanian, dan kesungguhan. Mungkin saat ini, tiga kata kunci itulah yang harus selalu ku genggam dan ku gunakan dalam perjalanan ini.

Pada dasarnya, semua manusia sama. Ingin meraih sesuatu yang mereka impikan. Namun, berbeda pada cara pencapaiannya. Ada yang dimudahkan sehingga dengan mudahnya ia meraih impiannya, ada yang sangat merasakan beratnya perjuangan sampai-sampai hampir putus asa dan ingin berhenti, dan yang terakhir ada yang sangat menikmati proses perjuangan meskipun itu sulit atau mudah, ia tetap menjalaninya.

“ Kalau aku terus-terusan gak berani sama kejamnya hidup, aku gak akan bisa ngerasain senangnya nanti kalau udah sukses. Hidup itu indah, karena itu ia akan memberikan sedikit warna bagi siapa saja yang memperjuangkannya. Karena kalau indah, di pastikan jalan tersebut penuh sentuhan corak yang menarik dan lika-liku kehidupan. Indahnya itu ketika aku bisa ngelawan kejamnya dia. “

Aku tidak diam. Aku hanya berceloteh dalam kesunyian. Berusaha merangkai kata-kata yang tersusun pada suatu tumpu bernama cambukan. Entah, harus ku katakan apa lagi pada diri ini agar bangkit dari segala hal yang telah membuatku terpuruk.

_ AyNote _

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al Aswad bin Yazid - Perawi Hadits Ahli Ibadah

InsyaaAllah bisa...

Tapi susah :(