Obrolan Dalam Sunyi
Obrolan
Dalam Sunyi
Oleh :
Azzura Ayzhie
“ Syut… “
: Ya ?
“ Boleh aku
bertanya satu hal ? “
: Jika
fikiranmu masih berjalan dengan baik, silahkan saja.
“ Bagaimana
kau bisa bertahan dalam situasi sulit seperti ini ?”
: Heh, sudah
kuduga. Tabi’atmu masih sama seperti dulu.
“ Sudahlah,
jawab saja pertanyaanku.. “
: Entah, aku
hanya sedang berusaha terlihat seolah tak terjadi apa-apa.
Sama halnya
ketika kau melihat daun itu sedang rimbun padahal ada sesuatu yang harus ia
timbun. Bayangkan saja, terpaan anginnya selalu membuat daun yang awalnya diam
dan tenang kemudian tiba-tiba terhempas. Sesuai dengan kehendak angin ingin
kemana ia membawanya. Diam tanpa perlawanan. Sekalipun dalam goyah, jatuh
terhempas ke tanah, sudah lapuk dan tua, ia tetap tabah.
: Kau mau
menjadi dirinya ?
“ Jangan
gila. “
: ( Senyum )
“ Ku rasa,
lebih baik jika itu kau.. “
: Dan kurasa, sekarang berhentilah berceloteh
seolah semua diam. Padahal ada percakapan asing yang terus menyuarakan iramanya
dan tak kau sangka sama sekali. Masih ada jiwa-jiwa yang di datangi hampa.
Masih banyak perasaan yang ingin disampaikan.
“ Jadi,
jiwamu hampa karena perasaan yang belum tersampaikan ? “
: Sepertinya
sekarang giliran aku yang berkata “ Jangan gila.. “
“ Lalu ? “
: Mungkin
dari kecil kemungkinan, ada aku di antaranya. Bahkan dalam keadaan ramai
sekalipun, jiwa ku ingin menyendiri. Merasa seperti butiran debu di tengah
terpaan badai. Menepis semua keraguan, menebas semua kehampaan, mengoyak dan
mencabik seluruh busuknya pemikiran.
“ Bisa tidak
kau mengatakan tanpa emosi ? “
: Tidak ada
toleransi ulang dalam kata-kataku.
: Aku hanya
butuh beradaptasi. Semua harus ku jalani dalam proses panjang. Entah terlalu
lama atau aku merasa waktu terlalu singkat. Entah aku yang sulit menerima atau
orang lain yang sulit memahami.
Tegar ~~
_ AyNote _
Komentar