Kerinduan yang sempat menghilang

Kerinduan yang sempat menghilang

Oleh : Azzura Ayzhie

Waktu sekian kali menamparku. Memutar tajam jarum detik untuk setiap angka yang pernah singgah. Aku tak pernah berfikir sejauh ini. Bagaimana rasa tajamnya baru saja menusukku untuk pertama kali. Menusuk, menyayat, tergores, lemah. Aku tak punya kendali. Aku hanya bisa menerima pasrah dengan ketentuan yang ada. Senantiasa belajar kuat dari orang-orang yang terkuat. Setidaknya, aku pernah bersama mereka dalam pertarungan yang hebat.

Tetiba hati galau mendesah. Menanti pengharapan yang selalu memacu untuk ku panah. Bisikan-bisikan lembut, tamparan-tamparan keras, tusukan yang selalu mengena di sudut rongga jiwa. Semua.. Tak pernah absen sejak saat itu.

Tak ada kata yang tepat untuk ku ucap. Semua tinggal gemerlap redup yang hanya bisa ku pandang dari kejauhan. Tangan meraih namun tak sampai. Mengucapkan ucapan perpisahan pada asa yang pernah tinggal. Semua terasa janggal.

Untuk mereka orang-orang yang selalu bijak. Tidak mengenal kecewa pada kesempatan yang ada. Mereka bisa bersahabat dengan asa, bahkan untuk memperjuangkannya sekalipun. Mungkin pernah terbesit di hati bagaimana ada firasat untuk bersiap-siap ikhlas. Tegar, selalu berdiri tegap sekalipun berpijak pada kayu yang lapuk.

Selalu seperti itu, di berikan hati agar senantiasa peka dengan keadaan. Ketegaran pada bulan februari tak bisa ku maafkan. Namun aku bisa sangat merasakan berharganya kehilangan pada suatu kesempatan. Ya, kemungkinan besar itu adalah sebuah pertanda.

Ku mulai introspeksi pada sebelumnya. Tanda awal agar selalu bisa mawas diri. Membuang kata pesimis yang bersemayam pada hati yang terdalam. Meniti mimpi kembali di awal sebuah perjalanan, yang sempat rapuh. Gertakan, retak, rapuh, hancur. Semua.. Itu nyata.

Bukan bertempat pada bunga tidur semata. Semua ada konsekuensinya. Hati yang lemah harus bisa menerima hantaman keras agar bisa dikuatkan. Memoles ketegaran pada proses yang panjang. Karena lemah, tak bisa dimaafkan. Tapi diingatkan untuk bisa memiliki hati seorang pejuang.
Namun, bukan berarti selalu lemah dalam setiap keadaan. Pasti ada sandaran yang menguatkan segalanya. Bukan hanya menguatkan, tapi juga membangun jiwa.
Allah… Mengucap lirih saja sudah membuat hati bergetar. Apakah diri ini baru tersadar? Jika sandaran padaNya lah bisa menguatkan segalanya. Aku kuat bersama Sang Maha Kuat. Ia yang sampai saat ini membantu agar bisa merangkak, berjalan, kemudian berlari. Namun setelah itu tak ku hiraukan.
Allah… Maafkan aku yang tak bisa peka bahwa Kau rindu.. Akupun rindu, tapi pasti rasa rindumu lebih besar dari diriku. Perhatian yang harus bisa ku tingkatkan pada sebuah kerinduan. Ya, semua belum terlambat. Bagaimana aku bisa lupa pada Sang Maha Hebat? Dia yang memegang kendali atas semua. Allah, maafkan makhluk hina yang tercipta. Tercipta dari kerendahan dan sudah diberi peringatan bahwa semua kembali pada awal kerendahan.
Benar saja, tak terasa ada isakan tangis yang mendera. Layar yang ku pandang dan jari-jemari ini bisa dikuatkan untuk menjadi saksi. Selalu masih ada kesempatan untuk tersenyum. Ada kesempatan memperbaiki segalanya. Merombak diri dari setiap kesalahan. Kesalahan yang pernah mengabaikan. Semua begitu terasa, ada rindu yang sangat mendalam. Mungkin, inilah caranya agar bisa merasakan bagaimana rasanya merasa sangat kehilangan.

_ AyNote _

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al Aswad bin Yazid - Perawi Hadits Ahli Ibadah

InsyaaAllah bisa...

Tapi susah :(