Jejak Rindu
Jejak
Rindu
Oleh :
Azzura Ayzhie
Pertemuan dengannya begitu singkat. Tanpa ada rencana. Tanpa
niat memberikan kesempatan pada rasa.
Meski waktu memberikan ruang tawa pada keduanya. Justru itu yang membuat
rasa semakin ingin menampakkan dirinya. Sebenarnya tidak perlu ditampakkan, ia sudah
begitu terasa. Sangat. Tanpa perlu izin, ia sudah memenuhi sebagian rongga
hati.
Apalagi, dia. Dia sudah memberikan alunan nada yang begitu
sampai ke hati. Kau tahu? Aku sangat
menyukai irama, alunan nada, dan sejenisnya. Mereka selalu ingin menari di dalam
imajinasi. Dan kejamnya, ia memberikan semuanya.
Aku selalu termenung. Tidak tahu harus bagaimana lagi
menyelesaikannya. Rindu yang kurasakan terlalu berat. Itu pun, harus kutanggung
seorang diri. Harus merasa kasihan kah? Sepertinya iya.
Kemudian, lamunanku teringat pada sepatah kata Dilan : “Jangan
rindu. Berat. Kamu gak akan kuat. Biar aku saja.”
Heh, terlihatlah senyum
sinis yang ku tampakkan.
“Bagaimana bisa aku
mengatakan hal bodoh seperti itu?” Hatinya menggerutu.
Bagaimana bisa rindu itu menghunusku? Belum pernah menatap
sepasang mata. Perbincangan dengannya pun begitu singkat. Tanpa mengulur waktu,
ia sudah menetap. Lama dan tak mau kembali. Kejam memang, ia begitu kejam.
Namun, aku merasa,, bukan hanya rindu saja yang kejam. Aku yang
membiarkan rasa ini tumbuh tanpa ada pengakuan. Pengakuan yang bisa saja
membisukan semua raga. Mulut terkunci, nafas terhempas, dan hati berhenti
berdetak. Terjadi pergolakan batin yang mempunyai kendali atas semua ini. Ya,
kurasa seperti itu.
“ Jangan cinta. Sakit. Khawatir akan lama pulih. Biar aku saja.
Jangan diam. Menyiksa. Aku tidak tega melihatnya. Biar aku saja.
Tapi sampai kapan?”
Aku hanya ingin menyampaikan
seuntai kata. Jika suatu saat, entah kau ataupun aku kembali dengan kisah yang
pernah terjadi sebelumnya. Jangan mencoba untuk melangkah mundur, dengan tujuan
menanyakan kembali tentang alunan nada yang pernah menetap dalam imaji. Tak
perlu kau tanyakan bagaimana aku bisa melewati semua. Tanpa berani kuucapkan,
kau sudah menjadi penyemangat. Dan, terima kasih sudah menjadi inspirasi.
Jika selama ini aku diam.
Boleh ku sampaikan pepatah hati yang sudah lama tertahan?
“Ya. Ada rindu yang diam diam membunuh. Ada hati yang sudah lama
menahan perih. Ada waktu yang tega membuat jarak di antara dua raga. Bisakah
kau hentikan itu? Hentikan putaran waktu ketika rasa ini ada. Untuk kembali
kubunuh semua rasa..”
_ AyNote_
Komentar